CPNS Story



Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Sebelumnya perkenalkan dulu saya ibu Puteri Aprilianti, M.Pd. guru Matematika SMA Negeri 1 Sungai Rotan yang telah bertugas selama 5 tahun sejak diangkat menjadi CPNS Kabupaten Muara Enim tahun 2015 silam. Mari duduk dan dengarkan sedikit cerita saya.

Masa itu, 2013, saya berstatus mahasiswa dan juga seorang  pemimpi yang kehilangan impiannya ketika realitas menghempaskan saya jauh. Kekalahan di salah satu ajang olimpiade mahasiswa membuat saya mengubur harapan untuk dapat beasiswa s2 ke luar negri sekaligus memaksa saya melupakan mimpi menjadi scientist. Lulusan pendidikan matematika memangnya mau jadi apa lagi selain jadi guru? Itulah yang dikatakan orang tua saya. Klise memang, tapi benar adanya. Maka sejak 2013 itulah, saya memulai jejak untuk menjadi abdi negara dan membulatkan tekad untuk berbakti pada negri sebagai guru Matematika.

Jejak saya diawali dengan folder sederhana disamping folder “Skripsi” bertuliskan “CPNS”. Sembari mendownload artikel dari google scholar, saya sempatkan mengcopy paste soal-soal CPNS tahun sebelumnya dan menaruhnya di folder CPNS tadi. Beberapa waktu, saya menutup instagram saya dan mendownload aplikasi berita untuk memantau kabar CPNS.

Awal 2014, saya membaca berita bahwa penerimaan akan dilaksanakan pada Agustus, dengan segera saya targetkan untuk lekas bergelar sebelum Mei berakhir. Alhamdulillah, target tersebut tercapai bahkan di Mei itu saya bukan hanya bergelar melainkan dapat lanjut pula belajar di program Magister.

Sebagai seorang fresh graduate, menganggur sungguh kegiatan yang memusingkan bukan. Status pengangguran bisa benar-benar mengganggu apalagi bagi anak desa macam saya. Karena itulah lantas saya mengambil pekerjaan guru honor di salah satu SMP di Gelumbang. Hari-hari kemudian beberapa anak tetangga datang untuk belajar di sore hari dan tanpa bisa dicegah, nama saya sebagai guru les matematika menyebar dengan mudahnya di desa kecil ini. Mendekati akhir Juli, murid les saya mencapai 14 orang yang dibagi-bagi dalam 4 hari les dari senin hingga kamis dan di kamis sorenya, saya melancong ke Palembang, menginap di kostan hingga minggu pagi demi kuliah weekend Jumat-sabtu.

CPNS? Tentu saja tidak pernah terlupakan dan menjadi agenda wajib di malam hari, meski terkadang tertunda oleh tugas kuliah dan koreksian siswa. Namun begitu, progress belajar saya cukup konsisten karena tekad yang semakin kuat menyadari tidak nyamannya mengajar dengan status honor yang maaf, kecil gajinya.  Saya juga mulai sadar betapa sulit dan lelahnya mencari uang, menghabiskan banyak energi demi beberapa ratus ribu dari murid les saya.

Mendekati akhir Agustus, berita CPNS semakin santer. Saya mulai mengunjungi toko buku dan mencari buku-buku latihan CPNS yang best seller dan ada kaset aplikasi CAT-nya. Folder CPNS saya semakin banyak isinya, namun tidak banyak yang mampu masuk ke kepala saya terutama materi wawasan kebangsaan. Saya sadari sepenuhnya bahwa saya adalah manusia eksak yang cukup anti dengan pelajaran sosial dan hafalan. Lain halnya dengan matematika, penalaran dan semua tes logika, Insyaa Allah saya yakin bisa.

Awal September, formasi penempatan mulai tersebar. Saya wanti-wanti dalam menimbang dimana saya akan melamar. Kabupaten saya, Muara Enim saat itu belum juga terdengar kabar, dan di satu pagi setelah subuh saya izin ke orang tua untuk mengambil formasi di Kabupaten lain yakni Muratara. Setelah izin dapat, lantas saya membuka laman sscn yang semingguan itu saya buka setiap waktu lebih-lebih wa dan sosial media lainnya. Kita tidak pernah tau takdir seseorang, begitupun saya. Ketika website dibuka dan saya benar-benar sudah akan mengklik muratara, formasi Muara enim muncul dengan manisnya dan membuat saya terlonjak. Belum lagi saat melihat 2 formasi guru matematika yang penempatannya dikecamatan yang tidaklah terlalu jauh dari rumah saya.

Segera saya izin kembali ke orang tua untuk mengambil formasi di Muara Enim, dan tentu saja orang tua mengizinkan dengan wajah yang lebih cerah dari sebelumnya. Waktu dari pendaftaran hingga tes tidaklah terlalu lama, saya mulai belajar lebih sering. Tugas kuliah, saya rapel duluan dan koreksian siswa saya selesaikan semuanya. Saya masih kesulitan dalam menghafal hanya dengan buku dan catatan, maka saya mulai mencari cara lain. Youtube dan aplikasi di playstore adalah jawabannya. Video-video animasi dengan gambar tentang sejarah Indonesia ataupun makna Pancasila ternyata jauh lebih mengasyikan dan mudah dimengerti. Kemudian aplikasi di android nyatanya jauh lebih mudah dan lebih sering dibaca dibanding buku tebal yang membuat tangan pegal. Belum lagi, tes dan TO online yang soal-soalnya lebih membuat otak berpikir. Digitalisasi ini sangat bermanfaat bagi saya hingga sehari sebelum tes, saya mendapatkan skor TO Online  yakni 450. Kepercayaan diri muncul begitu saja, saya optimis bisa mendapatkan skor cukup tinggi dan menargetkan mendapat skor diatas 430.

Saya mendapat jadwal ditanggal 25 November 2014, hari itu hari selasa. Malam sebelumnya saya deg-degan minta ampun karena bagaimanapun saingan banyak, kakak tingkat, adek tingkat, teman seangkatan dan orang-orang dari universitas lain yang mungkin jauh lebih pintar dari saya. Doa tentu saja mengalir deras sejak 3 bulan lalu, acapkali berpuasa, sedekah dan amalan lain demi membujuk Allah agar meluluskan saya di tes CPNS tahun ini. Tiada yang disebut dalam doa melainkan “semoga hamba jadi PNS tahun ini ya Allah, jadikanlah hamba PNS tahun ini ya Allah” begitu terus hingga terkadang tanpa sadar masih suka saya sebutkan hingga saat ini heheh.

Selasa pagi, papa dan mama saya yang juga adalah PNS di lingkungan kabupaten Muara Enim ikut bersama saya pergi ke Muara Enim. Alibi mereka adalah karena ada rapat dan sekalian mengurus laporan. Meski begitu, saya tahu bahwa alasan utama mereka tentu saja adalah demi mengantar dan menemani saya. Saya sudah lama sekali tidak ke Muara Enim, karenanya perjalanan 3 jam ke Muara Enim dihari itu jadi salah satu perjalanan menyenangkan yang tidak bisa saya lupakan.

Setelah papa rapat dan mama mengantar laporan, maka diantarlah saya ke aula rumah sakit rabbain tempat tes untuk daerah Muara Enim yang memang sudah dua kali melakukan seleksi CPNS menggunakan CAT. Administrasi sungguh baik, sejak dari pengiriman berkas, penerimaan kartu tes, hingga proses memasuki ruang tes semua baik, sistematis, dan juga ketat. Papa saya adalah seorang sekretaris camat di salah satu kecamatan di kabupaten Muara Enim dan Mama saya adalah kepala sekolah salah satu SMP di kabupaten Muara Enim, namun di hari itu saya tidak kenal siapapun, dan saya tidak dikenali siapapun, saya ya saya, bukan anak sekcam, bukan anak kepala sekolah, bukan siapa-siapa, saya hanyalah saya, peserta tes yang memiliki kemungkinan sama dengan peserta lain, antara lulus atau tidak.

Masuk ruang ujian, semua baik. Komputer baik, timer baik, dan waktu mulai pas dengan aturan. Saya mulai dengan Bismillah dan lantas sibuk mengerjakan soal yang Alhamdulillah saat itu tidak terlalu banyak menyusahkan. Saya cukup percaya diri melihat soal Intelegensia umum yang bisa dikatakan jauh lebih mudah dari yang biasa saya kerjakan. Waktu satu jam dihari itu berlari dengan kencangnya, tanpa sadar panitia sudah koar-koar bahwa waktu akan segera berakhir. Beberapa peserta mulai berdiri dari bangkunya, begitupula dengan saya. Saya pun mengklik tombol selesai dan disanalah kepercayaan diri saya runtuh seketika saat melihat total nilai yang ‘hanya’ 409. Badan seketika lemas, dan air menggenang di mata tanpa diminta. Target saya yang 430 tentu jauh sekali dari 409. Saya tidak sempat lagi melihat skor orang lain karena fokus pada pemikiran rendahnya skor saya, sementara orang-orang berkumpul di depan komputer saya mengamati skor yang saya dapat. Saya tidak menghiraukan semakin ramainya orang-orang yang berkumpul didepan bangku yang tadi saya duduki dan memilih beranjak pergi keluar karena air mata yang sudah akan membanjir. Didepan pintu keluar, tak sulit menemukan papa saya yang tersenyum lebar. Air mata tak dapat dibendung lagi, bahkan sesenggukan mulai terdengar. Tapi anehnya papa malah tersenyum lebar bahkan tertawa. Begitupun mama, mereka menunjuk ke layar televisi yang memang disediakan panitia untuk memperlihatkan skor para peserta didalam. Dan disanalah saya dapat melihat bahwa nama saya ada diurutan kedua sementara yang pertama adalah nama kakak tingkat saya dulu dengan skor 416.

Saya masih agak lemas, tetapi hati sudah mendingan. Panitia mengatakan bahwa dari hari pertama hingga hari itu, belum ada yang mampu mencapai 400. Baru kami berdua yang melewati skor itu. Meski lumayan lega, tapi masih ada ketakutan karena tes untuk pendidikan matematika masih ada di hari esok. Tapi desas-desus bahwa skor 400 itu sulit untuk dicapai sedikit menenangkan hati saya hingga mampu tersenyum damai disepanjang perjalanan pulang.

Esok hari saya dapati kabar bahwa yang skor tertinggi di hari itu hanya mencapai 380-an. O Allah, sepertinya doa saya tercapai. Kelang beberapa hari, nama saya muncul di berita salah satu koran di Sumatera Selatan sebagai 3 besar skor tertinggi di Muara Enim.  Oke, sepertinya saya harus mulai siap-siap.

0 Response to "CPNS Story"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel