Gerimis di Hatiku



Karya : dr. Ayu Agustriani

Hiruk pikuk jalanan memecah lamunanku, membawa kenangan nostalgia belasan tahun lalu.Di sudut gang jalan kecil inilah dulu kaki-kaki kecil yang dekil berjalan tertatih demi segenggam uang receh untuk sekedar mengisi lambung yang mulai pedih.Galang,Ya itulah aku.Seorang eksekutif muda yang kini dipandang sukses oleh kebanyakan orang.Tak banyak  yang tahu jika Galang yang mereka kenal sekarang adalah seorang anak jalanan yang sering dipandang sebelah mata .Galang kecil berasal dari sebuah keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan.Ia harus berkeliling dari satu bus ke bus lainnya untuk mengamen mengumpulkan pundi-pundi receh untuk melanjutkan hidup.Galang yang dulu bahkan tidak pernah berani untuk bermimpi menjadi seseorang yang diperhitungkan dikemudian hari.Ia hanya berpikir bagaimana caranya ia dapat menghasilkan lebih banyak pundi-pundi receh untuk bertahan hidup keesokan harinya.Sesekali aku tersenyum getir memandangi sudut-sudut lorong jalanan yang dulu menjadi saksi beratnya hidup seorang Galang kecil.
“Maaf Pak,apa bapak yakin ini tempatnya?” suara pak Pardi sopirku memecah lamunan yang semakin jauh
“Iya Pak,saya yakin.Tempat ini tidak banyak berubah” ujarku seraya tersenyum memendam perasaanku yang  sudah campur aduk semenjak  aku menginjakkan kaki ke tempat ini.
            Kutelusuri gang –gang kecil yang dulu terasa lebar bagiku, langkahku terhenti saat aku melihat sebuah  saluran pembuangan air yang lebih mirip seperti parit besar.Kenangan nostalgia itu secara tidak sopan  langsung melayang dipikiranku.
“Mas Galang, mandi di kolam renang itu enak ya, Ujar Rafa adikku seraya memandangi got besar yang terbentang di depan kami.
“Mas Galang gak tahu, mas Galang juga belum pernah “ ujarku saat itu
Tanpa Pikir panjang Rafa langsung melompat ke dalam genangan air yang lebih mirip parit .Senyumnya mengembang lebar.
“Mas, ayo berenang, airnya dingin “ ujar Rafa dengan senyum yang semakin mengembang”
“Pak, hujan, sepertinya kita harus bergegas” ujar pak Pardi yang lagi-lagi kembali membuyarkan lamunanku
Kami bergegas menelusuri lorong kecil yang semakin menyempit.Hingga akhirnya kami tiba disebuah tempat yang menjadi titik awal perubahan hidupku.Sebuah bangunan reot yang terletak disebelah  tumpukan sampah yang menggunung.”Sekolah Anak Jalanan Mas Wira” begitulah dulu kami menyebut tempat ini.
            Disinilah aku mengukir mimpi dan mulai berani memiliki cita-cita.Mas wira seorang pemuda yang berhati malaikat yang pernah kukenal.Mas Wira lah yang memupuk cita-cita seorang Galang kecil agar berani memiliki mimpi yang besar.Dari Mas Wira lah saya belajar tentang sebuah filosofi sederhana namun sangat luar biasa dampaknya.”Sebuah hiasan porselen itu menjadi berharga setelah melewati proses yang panjang dan menyakitkan seperti diukir dan disayat untuk bentuk yang indah hingga dibakar di suhu yang panas , jika ia berhasil melewatinya maka akan terciptalah sebuah hiasan yang indah, begitu pula dengan kehidupan.Kadang memang tidak mudah tetapi jika kita berhasil melewati semua keadaan terburuk semua akan berakhir indah  pada waktunya” ujar mas Wira waktu itu.Dan filosofi inilah yang menjadikan aku terus berani untuk berharap dalam hidup.
            Dari Kejauhan , kulihat seorang lelaki paruh baya yang sedang mengajar anak-anak jalanan, lambat laun ia pun menyadari keberadaanku. Perlahan ia berjalan ke arahku .
“Maaf,mencari siapa Mas?” ujar lelaki itu menghampiriku dengan sopan
Aku terdiam tak mampu untuk berkata apa-apa lagi.Kupaksakan untuk tersenyum senatural mungkin.
“Galang“ ujar lelaki paruh baya itu yang segera mengenaliku.
Mas Wira tidak banyak berubah,wajahnya yang teduh  tetap menjadi ciri khas nya yang tidak pernah aku lupa.Dalam hening aku menggamit tangannya ditemani dengan rintikan air hujan yang seolah mengerti perasaan  haru di hatiku .Ya, cuaca hari ini sama dengan cuaca hatiku. Gerimis hari ini sama dengan gerimis di hatiku.

0 Response to "Gerimis di Hatiku"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel