MONOLOG

            


Halo, aku Osa. Begitulah teman-temanku memanggilku. Sebenarnya nama lengkapku lebih panjang dari itu, Osa Prameswari. Kedua Orangtuaku adalah studi oriented. Waktu bermainku seakan-akan berhenti pada tahun pertama masa Sekolah Menengah Atas (SMA). Saya habiskan banyak waktu saya untuk memulai hari dengan rutinitas sekolah, pulang sekolah dengan mengikuti les dan malam hari harus mengerjakan pekerjaan yang begitu banyak, mulai dari PR sekolah hingga tugas les yang tiada hentinya. Jika rutinitas itu berubah, kedua orangtuaku langsung menginterogasiku, “Kenapa tidak les? Apakah PR sedang libur malam ini?” Begitulah rentetan keseharianku.

Suatu hari aku bertekad untuk hidup jauh dari kedua orangtuaku. Aku bertekad untuk melanjutkan studi di luar kota bahkan kalau bisa luar negeri. Hal ini tidak lain dan tidak bukan agar aku bisa merasakan melakukan sesuatu sesuai dengan kehendakku. Setiap hari saya habiskan waktu istirahat untuk mengunjungi BP dan pergi ke perpustakaan untuk meningkatkan persiapan untuk melanjutkan studi. Dalam benakku pun apapun itu yang penting untuk studi, kedua orangtuaku akan sangat mendukung. Begitulah tekadku untuk memisahkan diri dari orangtua. Dan memang orangtuaku sangat mendukung pola belajarku dan sangat amat mendukung bahkan.

Datanglah waktu SNMPTN, aku memutuskan untuk mengambil jurusan yang sangat banyak orang inginkan dan banyak orang mundur karenanya juga, yups kesehatan tepatnya kedokteran. Tanpa memikir panjang apakah akan masuk kualifikasi atau tidak, aku langsung mantap memilih beberapa list jurusan kedokteran. Pesanku satu, jangan terlalu yakin akan impianmu, tetap sediakan ruang untuk kecewa karena tidak semua hal yang di impikan akan terwijud. Teman-temanku dengan wajah heran melihat betapa meyakinkannya aku  saat memilih jurusan itu. Aku pun dengan hati yang mantap melewati mereka semua. Hari pengumuman telah tiba dan ya aku tentunya tidak akan pernah diterima di jurusan yang memiliki kualifikasi tinggi dan sangat jauh dengan kualifikasiku yang cukup ini. Sore itu akhirnya aku menumpahkan semua air mataku tanpa bersuara, karena saat itu aku tidak mau melihat orang lain memandangku lemah. Rasanya sakit sekali ketika rasa kesal, kecewa, marah dan sedih mengendap dalam hati kita. Kalian tahu kan rasanya.

Kegagalan pertama tidak membuatku berhenti berusaha untuk melanjutkan studiku segera di luar kota ataupun lebih. Aku pun mengikuti jenis tes lainnya yaitu, SBMPTN. Kalian pasti sudah familiar dengan dua model tes masuk perguruan tinggi yang saya sebutkan tadi. SBMPTN menyertakan tes tertulis. Beberapa teman yang sama-sama berjuang adalah teman selama menuju tempat tes tulis berlangsung. Tes ini aku ikuti di luar kota dan aku pikir ini adalah hal yang bagus untuk melatih diriku jauh dari kedua orangtua. Saat di tempat tespun aku merasa baik-baik saja, tanpa memikirkan apa yang akan didapatkan nanti. Aku mencoba untuk menenangkan diri dalam resah karena trauma atas kegagalanku di tes pertama.

Kulalui hari tes dengan cukup baik. Aku beserta beberapa teman melakukan perjalanan pulang tanpa ada kendala berarti. Dan tentu yang kami tunggu-tunggu setelah hari itu berlalu adalah hari pengumuman kelulusan. Hari dimana penentuan akan diumumkan, hari dimana jawaban atas harapanku selama ini, hari dimana sedikit langkah untuk menjauh pergi dari kedua orangtuaku. Tuntutan belajar ini sangat menghilangkan waktu bebasku.

Pengumuman tespun keluar, alangkah kagetnya aku ketika mengetahui bahwa aku tidak melewati tes dengan baik, iya aku tidak lolos ujian masuk perguruan tinggi. Jangan ditanya betapa kecewanya aku saat mengetahui pengumuman itu. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memulai keidupan baru. Air mata yang ku tahan-tahan akhirnya keluar juga di depan seorang teman yang begitu bersabar namun sangat amat pendiam. Tanpa henti temanku ini memberikan pengertian bahwa pintu satu menuju impianku memang tertutup namun masih banyak pintu lain yang masih terbuka. Perlahan aku mulai memahami apa maksud temanku ini. Akupun mencoba untuk memperbaiki kesalahan demi kesalahan. Aku pun mengikuti satu jenis tes lagi dengan harapan bahwa ini adalah tes terakhir yang aku ikuti. Jika tidak bisa lolos maka pilihanku adalah tidak akan melanjutkan studiku. Sekitar satu bulan setelah mengikuti tes, akhirnya pengumuman telah keluar. Hasilnya memang aku lolos dan diterima di salah satu perguruan tinggi di kota terbesar di Indonesia.

Inilah ceritaku takan berhenti disini sampai ku menyambungnya lagi.

0 Response to "MONOLOG"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel